Sabtu, 04 Juni 2016

Kembali untuk Menengokmu

Akhirnya aku kembali untuk menengok kembali blog ini. Di sinilah aku pertama kali menulis blog pada tahun 2009 lalu. Blog pertama yang aku buat sehingga sampai kini aku memiliki cita-cita menjadi penulis. Aku datang kembali bukan berarti aku akan pindah kembali menulis di blog ini. Aku kembali karena aku ingin sedikit bernostalgia, sudah lama sekali aku tak mengunungi tempat ini. Jika diibaratkan sebuh rumah mungkin tempat ini sudah penuh debu, dinding yang lembab, atap yang bpcor dan plafon yang terlepas akibat tak mampu menahan tetesan air hujan. Ruangan yang pengap, persis mungkin seperti sarang jin. 

Maka dari itu aku menengok kembali tempat ini. Sekedar melihat mimpi-mimpiku masa lalu. Keinginan yang bahkan sampai sekarang belum pula berwujud. Baiklah aku akan menceritakan pencapaian apa yang telah dapat selama ini teruntukmu. Aku sudah meraih mimpiku untuk membuat sebuah novel dalam hidupku, aku sudah menyelesaikannya, tebalnya lebih 200 halaman. Tetapi sayang, tak ada satupun penerbit yang berminat untuk menerbitkan novel yang kubuat. Aku menyadari banyak sekali kekurangan dalam novelku tersebut, dan sampai sekarang aku tak membuat lagi novel. Aku memang banyak sekali memiliki alasan untuk tidak menghasilkan karya. 

Di samping itu, beberapa tulisanku berhasil masuk koran. Sekarang ini, sih, kebanyakan berupa esay opini di surat kabar harian di Kota Banjarmasin. Dulu sempat cerpen-cerpenku dimuat di koran pula, tapi sudah tiga tahun rasanya cerpenku tak dimuat di koran harian yang bonafit di kotaku. Ini merupakan kesedihan rasanya, karena memang aku memiliki cita-cita untuk menjadi penulis fiksi yang baik di Indonesia. Impianku memang sedikit berbeda ketika aku pertama kali menulis blog di tempat ini. Dulu aku ingin menulis buku dakwah dan motivasi seperti ustadz Abay dan Fauzan Muttaqien. Tapi tak apa, impian mungkin bisa berubah, tetapi inginku tetap satu. Menjadi penulis yang rutin menerbitkan buku. Semoga setelah S2 ini, segala impian itu terwujud. 

Mungkin itulah buruknya diriku, aku yang selalu menunda-nunda ini, seakan waktu yang diberikan untukku masih panjang. 

Aku ingin beranjak dulu, mungkin sesekali aku akan menengokmu kembali. Dan tetaplah menjadi saksi bagaimana aku di masa depan nanti. 

Bandung, 4 Juni 2016
Ferry Irawan Kartasasmita.